OJK Buka-Bukaan Penyebab IHSG Ambruk
Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengaku, sentimen domestik juga turut mempengaruhi pasar modal Indonesia yang saat ini masih tersungkur di zona merah. Hal itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini yang anjlok lebih dari 4%.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, OJK memahami terdapat berbagai pandangan yang berkembang belakangan ini terkait faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan dan berimbas kepada tekanan yang signifikan di pasar saham.
OJK hal tersebut mencerminkan respons pasar yang telah memperhitungkan kombinasi dari berbagai faktor, baik yang bersumber dari domestik maupun juga dari global.
Selain isu rebalancing MSCI, faktor ekonomi domestik hingga global juga menjadi perhitungan investor.
"Namun terdapat juga perkembangan berbagai indikator dan sentimen ekonomi baik domestik maupun global yang juga turut mempengaruhi dan menjadi bagian yang diperhitungkan oleh para investor," ujarnya dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (5/6/2026).
OJK terus menghimbau dan mengingatkan para investor untuk terus dapat mengikuti dan mencermati berbagai dinamika pasar secara objektif, proporsional, dan tetap rasional dengan mengedepankan analisis yang memadai dan juga memanfaatkan berbagai informasi yang valid dan terkonfirmasi.
"Ini penting agar dalam setiap pengambilan keputusan investasi dapat dilakukan sesuai dengan hasil analisis dimaksud di tengah-tengah kondisi pasar yang bervolatilitas tinggi maupun memiliki dinamika dan tekanan saat ini," sebutnya.
Menurutnya, di tengah dinamika dan tekanan pasar saham, OJK menyampaikan, sebetulnya secara fundamental pasar modal Indonesia dan juga kinerja emiten secara umum sebetulnya masih solid. Hal itu tercermin dari tingkat nilai transaksi dan likuiditas pasar saham domestik yang masih tercatat tinggi.
Selain itu, berdasarkan laporan keuangan emiten terakhir yaitu untuk periode triwulan I yang secara umum secara agregat masih mencatatkan pertumbuhan yang positif.
"Tentu ini adalah angka-angka historis dan mayoritas perusahaan tercatat tetap tercatat membukukan laba dengan pertumbuhan laba secara agregat lebih dari 21% jika dibandingkan periode yang sama yaitu Triwulan 1 di tahun sebelumnya," ungkapnya.
Dalam menjaga stabilitas di industri pasar modal, OJK telah menerbitkan sejumlah kebijakan yang responsif terhadap kondisi pasar, antara lain, memberikan fleksibilitas bagi para emiten dalam melakukan proses buyback saham tanpa melalui proses persetujuan RUPS.
Kemudian juga terus mencermati perkembangan dan tekanan di pasar, melakukan penyesuaian parameter Trading Halt, serta juga batasan Auto Rejection Bawah yang lebih terbatas. Selain itu juga menunda implementasi dan melarang praktik short selling dalam kondisi saat ini.
"Dan juga dengan tetap mempertimbangkan kesiapan kondisi pasar dan aspek perlindungan investor," tutupnya.
(mkh/mkh) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]
